Meninggalkan Dunia Hitam
Pak Sholeh (50) seusai sholat jamaah masjid di kampungnya dalam obrolan pulang dengan Pak Arif ke rumah menyampaikan unek-uneknya.
Sholeh “Saya sekarang sudah meninggalkan “dunia hitam”
Arif: “Wah, emang kejahatan apa yang sudah pernah Bapak lakukan? Jadi preman, bandit atau pencoleng?” katanya dengan penuh selidik.
Sholeh: “Oh, tidak, saya tidak pernah jadi penjahat, cuma rambut saya sekarang sudah mulai memutih karena semakin tua. Uban terus bertambah menggantikan rambut hitam.
Arif: Wah, kalau gitu saya sama dengan saya dong...
Gus Dur dan Anjing-Anjingnya
01/04/2011
Waktu belajar di Irak, Gus Dur bersepuluh temannya yang berasal dari Indonesia menyewa sebuah rumah besar. Untuk menghemat waktu, mereka juga bergiliran memasak dan ketika tiba giliran Gus Dur untuk memasak, menu yang disajikan selalu istimewa berupa berupa jerohan yang terdiri dari ati ampela, paru dan lainnya yang memang biasa dimakan di Indonesia, tapi ternyata tidak biasa dimakan oleh orang Irak.
Teman-temannya menikmati saja apa yang disajikan Gus Dur, dan tidak menanyakan bagaimana strategi mendapatkan makanan enak dan murah itu.
Suatu ketika akan ada rombongan tamu dari Indonesia dan untuk menyambutnya, para mahasiswa itu berencana membuat masakan istimewa dengan makanan seperti yang dibuat oleh Gus Dur.
Maka pergilah salah seorang mahasiswa ke penjual daging untuk membeli jerohan-jerohan itu
Mahasiswa: Pak minta jerohan 10 biji
Pedagang: Oh, ya, m
Kampenye ala Partai NU tahun 1955
01/03/2011
Pemilu tahun 1955 merupakan pemilu pertama yang diikuti NU. Masing-masing partai mengkampanyekan partainya dengan berbagai cara. berikut kampanye partai NU.
"Nyoblos bulan bintang kedhuwuren, nyomblos palu arit athos, nyoblos banteng ngamuk, nyoblos bumi (lambang NU) makmur,…ditanemi opo wae bisa dipetik hasile."
(Mencoblos bulan bintang (lambang Masyumi), mencoblos palu arif (lambang PKI), terlalu keras, mencoblos banteng mengamuk, mencoblos bumi makmur…ditanami apa saja bisa dipetik hasilnya.
Ali Haidar, Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia: Pendekatan Fikih dalam Politik, Jakarta, Gremedia. 1994.
Kiai Wahab Mencari Sopir
01/02/2011
Ketika NU memutuskan diri untuk berpisah dari Masyumi dan menjadi partai sendiri, banyak orang yang meragukan kemampuan NU dalam mempersiapkan SDM-nya. Salah satu politisi Masyumi, Isa Anshari, pernah menanyakan kepada Kiai Wahab dengan nada berolok mengenai minimnya SDM yang dimiliki NU untuk mengisi jabatan-jabatan publik.
Isa bertanya “Kiai, jika NU jadi partai politik, apakah sudah mempersiapkan tokoh-tokoh andalnya untuk menjadi menteri, duta besar, gubernur dan sebagainya? Berapa banyak dokter, pengacara, dan insinyur yang dimiliki NU?
Wahab menjawab: “Jika saya membeli sebuah mobil baru, penjualnya tidak bertanya: ‘Pak, bapak bisa menyetir?’ Pertanyaan semacam itu tidak perlu karena jika saya tidak bisa menyetir saya dapat memasang iklan di Koran ‘Dicari Sopir’. Tidak bisa diragukan akan segera ada antrian calon di depan pintu saya”.
Dikutip dari Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren (Jakarta: Gunung Agung, 1987) halm, 339
Jin dan perokok berat
10/01/2011
Suatu ketika ada tiga orang masing-masing pemabuk, penggila wanita dan satunya lagi perokok berat
menemukan kendi ajaib.Saat menggosok-gosok nya ternyata ada jin bebas keluar dari kendi tersebut. Karena telah berjasa terhadap jin itu, ketiga orang ditawari imbalan oleh jin sesuai dengan permintaanya.
Si pemabuk minta arak dengan segala jenis. Si penggila wanita pun demikian mendapat kiriman wanita-wanita cantik dibawa ke kamar si penggila wanita tadi.
Sang perokok berat pun meminta hal sama. Ia meminta rokok berbagai merk untuk dirasakan sepuasnya. Setelah diberikan hadiah tadi, Mereka menikmati pemberiannya di kamar masing-masing.
Esok harinya, jin tadi mengecek kepada masing-masing kamar ketiga orang tersebut.
Kamar pemabuk, orangnya lunglai terkapar mati kebanyakan minum arak, begitu pula si penggila wanita mati kehabisan tenaga bersama wanita-wanita tadi.
Namun, ketika membuka kamar sang perokok berat, jin kaget karena orang tadi masih segar bugar.
Si perokok berat dengan gagahnya keluar kamar sambil memukuli jin tadi.
” kamu itu gimana to jin, ngasih kesenangan rokok, tapi aku gak bisa menikmati pemberianmua,”kata orang tadi. “Kok bisa…”tanya Jin.
“Lha kamu tuh aneh, mosok ngasih rokok gak ada koreknya. Kapan menikmatinya.”gerutu perokok sambil memukul wajah sang Jin.
OOOOOOalaah. Ternyata sang perokok dituruti kemauannya tanpa diberi korek api. Tentu saja perokok berat tidak bisa menikmati pemberian jin..(qomarul adib)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar